BLOG INI MILIK MUHAMMAD SALMAN UMAR IMANI - MAHASISWA AGROTEKNOLOGI - FAKULTAS PERTANIAN - UNIVERSITAS PADJADJARAN Dokter Tanaman: 2011
Nematoda mati pada suhu 45 derajat celcius##Plutella xylostella menyerang daun kubis- kubisan, sedangkan Crocodolomia pavonana menyerang Crop kubis## Kemunduran Benih Meningkat Sejalan Dengan Meningkatnya Kadar Air Benih ## protektan mencegah masuknya penyakit yang masih diluar benih agar tidak masuk kedalam benih, desinfektan mencegah penyakit yang sudah menempel dibenih agar tidak masuk kedalam benih, desinfektan mengobati benih yang telah terinfeksi oleh penyakit##

Rabu, 21 September 2011

Bentuk PHT (Trap Barrier System)

        Kala itu kami dan tim melakukan bina desa didaerah Tanjung sari, desa gunung manik. Mereka bercurhat- curhat kepada kita tentang masalah yang dihadadpinya ketika itu. Namun dengan sedikit ilmu yang kami miliki, akhirnya kami pun bertanya kembali kepada pembimbing tentang apa yang telah mereka curhatkan, dan bagaimana solusinya, dan diberilah solusi Trap Barrier System (TBS) dengan segala tekniknya. Kemudian kami datang kembali dengan kepercayaan diri yang tinggi, dan mulai menyalurkan informasi yang telah diterima. Dan responya? Kita lihat dibelakang. 

       Trap Barrier System (TBS) adalah sebuah perangkap yang digunakan untuk meng merangkap tikus yang menyerang sawah. Seperti kita ketahui, sekarang ini tikus adalah momok yang sangat menyeramkan bagi para petani padi disawah. Pertanaman padinya hamper mencapai titik gagal panen, bahkan sampai gagal panen. Betapa tidak, tikus yang menyerang itu bukan satu atau dua, tapi hingga ratusan. Di daerah gunung manik kec Tanjung Sari, kab Sumedang saja, para petani mereka hamper tidak mau bercocok tanam padi lagi karena mereka merasa sangat terrganggu dengan adanya serangan dari tikus sawah tersebut. Karena memang ketika dilihat waktu itu kondisi padinya sangat kurang terjaga,gulma tumbuh tak beraturan, dan tumbuh dengan sehat, mungkin itu adalah bentuk ke pasrahan mereka terhadap serangan tikus tersebut. 
        
       Mereka bilang, mereka sudah melakukan segala cara untuk menangkal serangan tikus tersebut, namun serangan tikus masih saja meraja lela. Tapi akhirnya mereka tetap tidak mau menjadikan padi sebagai komoditas utama mereka, mereka lebih memilih bercocok tanam jagung, dan berternak sapi, itu lebih menguntungkan “katanya”. Trap Barrier System (TBS) ini cukup efektif dalam mengurangi jumlah tikus yang menyerang pertanaman padi, dan menurut beberapa saksi, memang begitu. Pada prinsip nya Trap Barrier System (TBS) ini adalah menjebak tikus agar bisa masuk perangkap. 





Gambar tersebut menunjukan bagaimana cara kerja Trap Barrier System. Kita menyimpan tanaman perangkap ditengah tengah tanaman yang akan kita budidayakan,. Tanaman perangkap ditanam 3 minggu sebelum tanaman asli yang akan kita budidayakan ditanam, hal ini dilakukan supaya tanaman perangkap lebih dahulu mencapai fase generative dibandingkan tanaman yang kita budidayakan. Kenapa tanaman perangkap harus lebih mencapai fase generative dibandingkan tanaman yang kita budidayakan? Karena pada dasarnya tikus menyerang pertanaman padi pada fase generative, jadi hal tersebut  dilakukan agar si tikus menyerang si tanaman perangkap yang telah dibuat. Dan pada tanaman perangkap tersebut kita simpan perangkap atau perangkap tersebut dinamakan bubu.
  
Tikus menyerang tanaman perangkap, pada tanaman perangkap tentunya terdapat perangkap untuk tikus tersebut. kemudian tikus terperangkap, terperangkap sebanyak- banyaknya. Dan ketika tanaman asli yang akan kita budidayakan mulai mencapai fase generative, si tikus sudah mulai habis karena terperangkap dalam tanaman perangkap tersebut. Ketika tikus sudah terperangkap, hendaknya kita membunuh dan membuang bangkai tikus tersebut sejauh mungkin, agar tidak dicurigai oleh tikus- tikus lainnya yang akan memasuki perangkap. Seperti itu lah prinsip dari Trap Barrier System.
Untuk teknik pembuatannya, saya akan post kan pada postingan selanjutnya. Supaya para pembaca terasa penasaran. :D
Selengkapnya...

Minggu, 18 September 2011

Strategy Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu

           Konsep Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT) hadir karena pengendalian pengendalian sebelumnya dinilai kurang efektif atau memiliki dampak yang sangat berbahaya terhadap lingkungan tempat kita hidup. Oleh karena itu aspek ekologi sangat lah diperhitungkan dalam konsep Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu ketika melakukan pengendalian, dan Pengendalian Hama dan Penyakit terpadu ini sifatnya adalah kondisional. Maksud dari kondisional disini yaitu pengendalian dilakukan ketika waktu waktu tertentu, dan sebelum kita memasuki ke pengendalian, kita melakukan metode preventif terlebih dahulu sebelum masuk ke pengendalian atau metode kuratif. Metode preventif adalah perlakuan yang bersifat mencegah, dalam artian, kita melakukan tindakan pencegahan serangan dari pathogen sebelum pathogen itu benar benar menyerang tanaman yang kita budidayakan. Dan metode pencegahan ini tentunya bukan pencegahan menggunakan pestisida, karena itu sangat bertentangan sekali dengan konsep Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu yang memang tujuan lahirnya konsep ini adalah untuk meminimalisir penggunaan pestisida yang diduga sangat merusak lingkungan. Tapi tindakan dari metode preventif ini adalah seperti sanitasi, mengatur jarak tanam, dilakukannya tumpang sari, pergiliran tamanan atau rotasi tanaman, dll, yang sifatnya pengendalian secara biological. 
        Ketika sudah ada penyerangan dari pathogen baru kita masuk ke metode kuratif yang artinya pengobatan, atau penyembuhan dari serangan pathogen. Sebenarnya kurang cocok jika dikatakan penyembuhan, karena kalo penyembuhan itu artinya ketika sudah dilakukan tindakan maka apa yang telah kita tindak itu kembali normal, namun dalam tanaman yang telah diserang itu sulit untuk disembuhkan, karena jika sudah terserang maka kemungkinan tidak akan kembali normal seperti semula. Ada economic threshold dan economic injury level, kedua hal tersebut adalah yang mendasari penggunaan metode kuratif. Metode tersebut dilakukan ketika serangan pathogen telah mencapai ambang batas ekonominya (economic threshold) dan ketika juga telah mencapai economic injury level. 
          Economic threshold atau juga ambang batas ekonomi adalah suatu kondisi dimana ketika serangan hama sudah mulai mencapai titik tertentu yang sudah ditentukan, dimana penentuan titik tersebut adalah berdasarkan hasil yang akan diperoleh ketika pengendalian tersebut dilakukan, maka kita masih bisa memperoleh keuntungan. Sedangkan economic injury level, yaitu suatu kondisi dimana kita memang benar benar harus mengendalikan dari serangan pathogen, karena jika tidak dikendalikan maka kita akan mendapat kerugian. Jika economic injury level dilakukan maka kita tidak akan mendapat kerugian, namun juga tidak mendapat keuntungan. Jika sudah mencapa titik economic injury level, kita diperbolehkan menggunakan pestisida sebagai cara pengendalian, namun jika masih berada dalam titik aman atau ambang batas ekonomi, kita dianjurkan untuk tidak menggunakan pestisida. Maka dari itu pencegahan sangatlah penting, kita sebisa mungkin harus mencegah segala hal yang berhubungan dengan pathogen agar mereka tidak bisa berpenetrasi masuk menyerang tanaman yang telah kita budidayakan. 
       Pada konsep Pengendalian Hama dan Penyakit terpadu (PHPT) zaman sekarang, ada metode tambahan selain dari metode preventif dan kuratif, yaitu metode preemtif, dan responsive. Kedua metode tersebut ditambahkan agar konsep Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu ini bisa lebih efektif dari sebelumnya. Secara definisi metode Preemtif adalah tindakan pengendalian yang berdasarkan pada informasi keadaan serangan hama pada musim sebelumnya, serta sekedar dugaan manfaat yang mungkin diperoleh dari tindakan pengenendalian yang dilakukan, seperti sanittasi, rotasi, tumpang sari dll. Sedangkan definisi dari metode responsive adalah tindakan yang didasarkan pada informasi dan status hama pada musim yang sedaang berlangsung, serta didasarkan pada evaluasi terhadap manfaat yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan.
           Segitiga tersebut dinamakan dengan segitiga Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT). Segitiga ini menggabarkan dengan jelas tentang Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT) secara umum. Segitiga itu menggabarkan bahwa “Biological Control based on IPM technology” adalah pengendalian yang harus diutamakan, hal tersebut tergambar dari porsinya yang begitu besar, sedangkan pengendalian dengan “Chemical Pest” sangat dihindari atau diminimalisir, hal tersebut juga sangat tergambar dengan jelas bahwa porsi dari “Chemical Pest” sangat kecil sekali. 
             Agroekosistem adalah asosiasi yang dinamis antara lingkungan dengan makhluk hidup. Jika saja ada yang hilang dari salah satu komponen tersebut, maka semuanya bisa saja menjadi kacau. Maka dari itu untuk bisa mengendalikan hama dan penyakit dengan tepat, kita harus bisa mengidentifikasi kondisi lingkungan abiotik, identifikasi tumbuhan inang utama/ alternative, identifikasi OPT dan musuh alami, identifikasi sumber daya pengendalian OPT. hal hal tersebut sangat lah penting untuk diketahui. Saya ambil contoh , jika saja kita tidak paham tentang OPT dan musuh alami, bisa- bisa musuh alami pun kita bunuh dengan perasaan tak berdosa, padahal keberadaan musuh alami tersebut sangat lah dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan yang ada dialam ini. Begitu pun dengan hal hal yang lain, semuanya sangat penting.
Selengkapnya...

Rabu, 14 September 2011

Screen House (Rumah Kasa)

       Perbaikan Teknik Budidaya untuk tanaman holtikultur, yaitu dengan menggunakan screen house atau rumah paranet. Konsep ini lebih mengarah kepada metode protektif, maksud dari protektif disini adalah tanaman- tanaman budidaya yang kita budidayakan ditanam didalam paranet, dan paranet ini lebih melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Screen house ini bukan asli berasal dari Indonesia, screen house ini adalah introduksi metode dari eropa, dan sebenarnya ada alih fungsi dari screen house ini ketika sampai diindonesia. Fungsi sebenarnya dari screen house ketika di eropa adalah untuk menjaga kondisi didalam screen house terjaga, suhu dan kelembabannya, karena memang kondisi cuaca disana sangat ekstrim dan mereka berfikir bahwa screen house bisa menjadi salah satu solusinya. Screen house ini adalah modifikasi dari green house, hal ini dikarenakan mungkin green house terlalu mahal. Karena kassa/ paranet untuk screen house relative lebih murah dibandingkan plastic UV untuk green house. 

      Metode budidaya yang dilakukan sama seperti metode budidaya professional yaitu perencanaan, kemudian pemilihan benih, penyemaian (hanya untuk sayuran{yang memiliki benih kecil}), tanam, panen, dan pasca panen. Pemilihan benih sangat lah penting karena benih adalah awal dari segalanya, jika benihnya kurang baik, maka bisa dipastikan hasilnya pun tidak akan baik. Syarat benih yang berkualitas adalah sebagai berikut : kemurnian lebih dari atau sama dengan 90%, benih sehat ( tidak tertular penyakit), daya kecambah lebih dari 90%, vigor tinggi, baik secara genetis, dan sebaiknya disarankan kita sebagai petani professional harus memilih benih yang bersertifikat karena benih yang telah melalui tahap sertifikasi itu sudah memiliki criteria- criteria yang telah disebutkan diatas tadi. Dalam konsep screen house ini (atau metode protektif), media tanam harus lah higienis, agar terjaga dari penyakit. Oleh karena itu sebelum tanam tanah sebagai media tanam tersebut harus distreilisasi terlebih dahulu dengan cara diuapkan, dengan dicampur fitmos dan sekam perbandingan 3:1. 
        Dalam konsep ini, irigasi sangatlah penting karena irigasi yang buruk akan membuat kondisi ruangan didalam rumah kassa akan membuat ruangan sangat lembab, dan itu akan mengundang pathogen datang, kondisi seperti itu sangat disukai oleh pathogen. Mulsa adalah salah satu bagian penting dari konsep rumah kassa ini. Karena mulsa dapat membuat tanaman lebih nyaman. Fungsi mulsa antara lain : memlihara kelembaban agar tetap terjaga(tidak terlalu tinggi), memelihara suhu (agar tidak rendah), mengaktifkan organism- organism antagonis, menonaktifkan gulma- gulma, dll.
Selengkapnya...

Senin, 12 September 2011

Tempat Downlaod Bahan Ajar

        Ada beberapa teman yang meminta data data perkuliahan, tugas, dan segala macamnya, saya coba untuk postingkan semuanya disini, agar bisa memudahkan temen temen untuk mengakses semuanya. tapi saya berharap bahan ajar ini bisa dipelajari dengan baik dan benar sehingga apa yang telah dilakukan itu bisa bermanfaat bagi saya dan temen temen tentunya. 
      

1. Biometrik2 
-Tugas 1 (LATIHAN DASAR EXCEL)
-Tugas 2 (Tugas 2 -biometrika2-)
- Tugas 3 (Tugas 3 -biometrika2-
- Tabel stat (
Tabel statistik) 
- Materi full sampe UTS (Download semua)
 - SPSS 20 (Part 1), (Part 2), (Part 3) ; Aktivasi (Download)
- Bahan UAS Full (Download)



-Materi Pertemuan 1 (Materi Pertemuan 1)
-Materi Pertemuan 2 (Materi Pertemuan 2)
-Materi Pertemuan 3 (Materi Pertemuan 3
-Materi Pertemuan 4-7 ((Download)
-Materi Pertemuan 8-11 (Download)
- Materi Pertemuan 8&9 (Download)
- Materi Pertemuan 10 (Download)
- Materi Pertemuan 11 (
Download)


- Materi Pertemuan 3 (Materi Pertemuan 3)
- Materi Pertemuan 5 (Materi Pertemuan 5
- Materi PHPT full (Download)
4. Evaluasi Lahan  
- Materi Pertemuan 1-4 (Materi Pertemuan 1-4 )
- Materi Pertemuan 5 dan tugas (download didieu
- Materi Pertemuan after UTS (part1 , part2 , part3)
5. Tekben 3
- Materi pertemuan 5 (Pengemasan Benih dan Perawatan Benih)
- Bahan UAS (Download)dan(Download)
6. Komunikasi Agribisnis

- Materi Buat UTS (Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5)
Selengkapnya...

Sabtu, 10 September 2011

Speed limiter Internet Download Manager (IDM)

Buat kamu yang suka download download file gede, kamu pasti pake Internet Download Manager (IDM) supaya kecepetannya secepet dewa, yang artinya itu suka ngabisin bandwith dijaringan speedy kamu ato segala macem lah, coba deh pake speed limiter. Tahu kah kamu, pasti pada tau dong, ketika salah satu dari kamu ngedownload sesuatu yang ukuran filenya gede bejibun, kamu keliatannya seneng dan puas banget dengan kecepatan download kamu hingga bisa sampe 130kb/sec, tapi sadarkah kalian? Sebenernya kalian sudah mendzolimi orang lain, ketika kamu mendownload dengan kecepatan tinggi, maka orang lainlah yang kena imbasnya, kamu emang cepet, tapi temen kamu jadi lola nanti koneksinya. Dan ini yang sering saya alami dan mungkin temen temen juga alami, kesal pasti. Maka dari itu saya mencoba menawarkan bagi kalian yang menggunakan Internet Download Manager (IDM), coba lah pake speed limiter, supaya nanti kita tidak mengganggu aktifitas orang lain yang sedang enak enak browsing ehh… tiba tiba jadi lemot gara gara ulah kita, kan kasian juga, gimana coba kalo itu terjadi sama kamu, kamu lagi enak enak nyari tugas, ehh tiba tiba jadi lambat banget dah si koneksi internetnya, pasti sering kamu alamin tuh. Maka dari itu, marilah temen temen kita berkompromi bersama, agar saling membuat diri kita dan jaringan kita tetap aman, nyaman, dan bebas dari kuman(apasi? :D). buat temen temen yang belum tau cara nya, gampang banget. Pertama kamu buka Internet Download Manager (IDM) kamu, terus klik kata download yang ada dibagian paling atas, terus klik speed limiter, terus klik turn on speed limiter, atau disetting dulu, ada kata setting kan disitu, klik aja, set speed limiter sesuai dengan kesepakatan. Kalo saya sendiri usulkan speed limiternya maksimal Cuma sampe 30kb/sec, supaya internetan bisa lancer jaya. Buat yang masih belum mengerti akan saya sertakan gambar supaya lebih mudah di pahami :
Klik Untuk memperbesar gambar. Selengkapnya...

Jumat, 09 September 2011

Motivasi Diri


Sepenggal kisah dari masa lalu yang suram telah membuatku berubah, berubah kearah lebih baik tentunya. Setelah semester semester lalu yang ku lewati begitu kurang memuaskan, dengan indikasi Indeks Prestasi(IP) saya tidak sama sekali memuaskan saya, stagnan tak ada perubahan ga naek ga turun. Kesal, sebal, bercampur, namun itu bukan salah siapa siapa, itu hanya salah diriku seorang, yang tak benar benar serius dalam memburu prestasi, banyak hal hal yang membuat ku terhambat dalam proses pembelajaran. Sebenarnya jika kita pikir- pikir, atau mencoba mengkalkulasikan waktu yang telah dilewati, sangat sanga sangat banyak sekali waktu yang sebenarnya bisa dijadikan untuk belajar, namun malah disalahgunakan, rasa mala situ masih berbisik bisik pada telinga ini untuk melakukan hal lain yang prioritasnya sangat sekali rendah, tidak bermanfaat, dan bahkan tidak perlu. Namun masa lalu tak bisa kita ulang lagi, yang berlalu biarlah berlalu, jangan sampai kita terlalu memikirkan hal hal yang lalu yang telah merusak kita, boleh memikirkan, tapi sewajarnya saja. Jadikanlah masa sulitmu sebagai pelecut semangat untuk bisa lebih hebat lagi dimasa yang akan datang. Ada kata bijak yang unik tentang kata “O”= OPPORTUNITY(kesempatan), pada kata “YESTERDAY” tak ada huruf “O” sehingga itu berarti bahwa tak ada kesempatan dihari kemarin, pada kata “TODAY” hanya ada sati huruf “O” yang berarti bahwa masih ada kesempatan pada hari ini, namun tidak banyak, sedangkan pada kata “TOMORROW” banyak sekali huruf “O” didalam kata tersebut yang menandakan bahwa banyak sekali kesempatan yang ada ketika hari esok. Luar biasa, maka dari itu mari lah kita songsong hari esok yang indah itu dengan penuh semangat dan sedikit senyuman. Berbagi pengalaman, ketika anda sedang terjerebab dalam kesulitan, anda sedang dalam kondisi tidak baik untuk berbuat apapun, maka rubahlah sesuatu yang kalian punya, buat sesuatu yang baru dalam lingkunganmu, misalkan, rubah tata letak kamarmu menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, yang bisa membuat anda puas. Rubah gaya rambutmu sehingga membuat kamu puas dan senang, intinya buat sesuatu yang nyaman dan menyenangkan dengan perubahan kondisi kondisi tersebut, kondisi yang bisa membuat anda senang melakukannya, walaupun anda harus mengeluarkan uang lebih untuk perubahanmu, berikanlah untuk itu, tapi ingat, uang yang kamu keluarkan itu harus bisa membuat anda puas dan senang dengan hal itu. Dan itu telah saya lakukan, hasilnya sangat memuaskan, saya bisa menulis dengan baik sekarang, kemalasan itu sudah mulai memudar, karena memang mungkin saya sekarang senang sekali dengan kondisi kamar saya (hal yang saya rubah adalah kamar) sehingga rasa malas itu kalah oleh rasa senang dan puas. Setidaknya hal ini juga dipakai oleh salah satu pesepakbola professional dimana dia sedang dalam kondisi buruk kala itu, performanya menurun drastic ketikda ia sedang dipuncak, kemudian ketika musim baru akan dimulai, dia merubah gaya rambutnya, dia menginginkan hal itu, dan itu membuat dia senang dan puas, hasilnya dia kembali ke performa terbaiknya kembali, ketajamannya didepan gawang lawan mulai diperihitungkan kembali, dia sekarang menjadi momok menakutkan bagi sang lawan. Dia adalah Wayne Rooney dari Manchester United, awal musim 2010/2011 dia melakukan hal yang luar biasa, mencetak gol hamper disetiap pertandingan, setelah kemudian cedera menyapanya, ketajamannya mulai menurun, bahkan dia sempat puasa gol kala itu. Masalah pribadi membuat keadaan semakin rumit, dia semakin terpuruk, namun hebatnya dia masih berfikir jernih, dia mencoba mencari cara bagaimana dia bisa kembali ke performa terbaiknya. Kemudian dia memutuskan untuk mentranspalansi rambut dikepalanya, yang katanya rambutnya itu tidak bisa tumbuh sebelum ia melakukan transpalansi rambut. Dan sebelum musim 2011/2012 dia melakukannya, rambutnya mulai tumbuh, dan rambut itu memberi dia kepuasan yang luar biasa, dia merasa senang dengan kondisinya yang baru itu. Dan hasilnya, sungguh menakjubkan, dia membuat 5gol dalam 3 pertandingan diKlub, dan membuat 5gol dalam 3pertandingan pula diTimnas. Kisah yang menarik yang patut kita tiru ketika kita sedang terjerembab dalam masalah dan sulit untuk bangki. #semoga bermanfaat :)
Selengkapnya...

Pengolahan Benih

1. Pengolahan dan penyimpanan benih
Pengolahan dan penyimpanan benih yang baik akan membuat qualitas benih tetap terjaga, dan bisa membuat umur benih bertahan lebih lama jika dibandingkan kita tanpa mengolah dan menyimpan benih dengan baik. Kita harus menjaga beberapa hal supaya qualitas benih tidak menurun, seperti protein dan lipid, kemudian kadar air, suhu, dan kelembaban. Semakin tinggi kadar protein dan lipid dalam benih, maka umur benih bisa dipastikan akan lebih pendek, kemudian jika kadar air dalam benih tinggi pun itu bisa mempercepat deteorisasi. Dari kedua hal tersebut, maka kita bisa menyimpulkan bahwa untuk mempertahankan kualitas benih agar tetap baik, kita harus menjaga kedua hal tersebut, menjaga kadar air agar tetap rendah, dan menjaga kadar protein dan lipid tetap rendah pula. Pertanyaannya adalah “how to keep” ?.


Kemasan adaah salah satu cara untuk mempertahankan qualitas benih, hal ini berkaitan dengan penyimpanan. Kemasan berfungsi sebagai penjaga benih dari hama dan penyakit agar mereka tidak bisa masuk dan berpenetrasi kepada benih. Kemudian kondisi tempat penyimpanan pun harus diperhatikan, karena keadaan lingkungan disekitar penyimpanan benih sangat mempengaruhi qualitas benih. Kelembaban dan suhu sangat mempengaruhi, semakin tinggi suhu, maka semakin cepat metabolisme dari benih itu, dan itu mengakibatkan benih lebih cepat mengalami kemunduran, kelembaban dari ruangan pun tidak kalah mempengaruhi kualitas benih, karena jika kelembaban didalam ruangan tempat benih itu disimpan tinggi, maka akan memudahkan penyakit untuk berkembang didalam ruangan tersebut, karena kelembaban yang tinggi adalah kondisi lingkungan yang sangat disukai oleh pathogen

2. Siklus produksi benih
a. Pemilihan benih sumber
Pemilihan benih sumber ini sangat berpengaruh terhadap hasil dari benih yang nanti akan kita panen, karena jika benih sumbernya kurang baik, maka hasilnya pun jelas kurang baik. Maka dari itu kita harus memilih benih yang berqualitas untuk proses produksi benih.
b. Tanam
Setelah mendapatkan benih sumber yang baik, lakukan pengolahan tanah terlebih dahulu agar tanaman yang akan kita tanam tumbuh dengan baik. Sebelum menanam harus dilakukan pengecekan sejarah dari lahan tersebut, hal ini dilakukan untuk menghindari bekas penyakit yang ditinggalkan ditanah (soil borne deaseas), jika sejarah tanaman sama tanamannya dengan komoditas yang akan kita tanam, maka sebaiknya kita jangan menanam komoditas tersebut dilahan itu, atau sebaiknya kita mengganti komoditasnya untuk ditanam dilahan itu, tentunya komoditas yang berbeda dengan komoditas yang ditanam sebelumnya.
c. Uji lapang
Uji lapang ini meliputi inspeksi 1, 2, dan 3. Nanti kita cari lagi apa aja yang termasuk kedalam inspeksi tersebut.
d. Panen
e. Pengolahan benih (lihat ditugas satu) atau dibawah
f. Pengujian benih
Pengujian benih dilakukan untuk menentukan kelayakan benih, boleh disebar atau tidak. Jika benih ini bersertifikasi maka proses pengujiannya cukup panjang dan ketat. Uji sertifikasi benih meliputi uji kemurnian benih, uji daya kecambah, dan uji kadar air (sebenarnya ada 4, tapi lupa satu laginya, kalo ga salah mah yaitu bebas dari benih lain, kotoran, serasah,dll.


g. Packing
Packing ini termasuk kedalam penyimpanan benih, packing dengan kemasan yang baik akan membuat benih bisa bertahan lebih lama dan kualiasnya tetap terjaga seperti semula, tetapi tetap saja kemunduran benih akan terjadi, masalahnya disini jika kita berkemas dengan baik itu akan memperlambat kemunduran benih.

3.Fase- fase pengolahan benih
1. Trashing or ekstraksi
Fase ini adalah fase dimana pengambilan benih dari buah. Yaitu dengan cara diekstraksi atau dengan cara dirontokan. Hal itu tergantung jenis benihnya, jenis benih terdiri dari 2 jenis, pertama adalah ortodoks yaitu benih dengan kadar air sedikit, kemudian yang kedua adalah benih rekalsitran yaitu benih dengan kadar air banyak. Jika kita ingin mengambil benih yang sifatnya ortodoks maka pengambilannya cukup dengan dirontokan saja (ex : ngarambet), dan jika kita ingin mengambil benih yang memiliki sifat rekalsitran maka kita tidak boleh mengambilnya dengan cara dirontokan, karena jika begitu buah akan hancur, cara untuk mengambil benih yang memiliki sifat rekalsitran yaitu dengan cara diekstrak, dengan begitu buah tidak akan hancur.
2. Pre- Cleaning
Pre- Cleaning adalah pembersihan pertama. Hal ini dilakukan sebelum benih memasuki kedalam mesin- mesin yang akan memproses benih untuk tahap selanjutnya.
3. Drying
Proses drying dilakukan didalam mesin, dan proses ini merupakan proses pengeringan benih hingga kadar airnya terbuang dengan kadar yang telah ditentukan.
4. Cleaning
Proses ini adalah pembersihan ketika setelah selesai melakukan proses drying, proses ini juga dilakukan didalam mesin, mau secara manual juga bisa sih, tapi kurang efektif.
5. Separating and grading
Separating and grading merupakan proses dimana setelah pengeringan dan pembersihan selesai dilakukan, proses ini adalah proses pemisahan benih benih sesuai dengan criteria criteria yang telah ditentukan, dan di grading atau dikelas kelaskan sesuai dengan kualitas dari masing masing benih.
6. Seed testing
Seed testing dilakukan jika semua proses pemisahan dan dikelaskan selesai. Seed testing ini merupakan proses pengecekan apakah benih inilayak masuk sertifikasi atau tidak.
7. Seed treatment
Jika benih sudah lolos sertifikasi, maka benih akan diberi perlakuan atau yang disebut dengan seed treatment, seed treatment ini adalah perlakuan dengan diberikan fungisida yang bertujuan untuk memprotektif benih dari serangan hama dan penyakit selama ketika disimpan.


#ini asli karya tulisan saya, jadi kalo ada yang mau kopas, harap tulis sumbernya ya. :)
Selengkapnya...

Kamis, 08 September 2011

It's About "Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT)" Part 1

Mengenai Pengendalian, banyak metode yang kini bisa diterapkan untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman yang telah kita budidayakan, salah satu yang paling efektif dan metode terkini adalah dengan pengendalian hama dan penyakit terpadu, atau lebih dikenal dengan sebutan PHT. Menilik kilas balik sejarah asal usul terbentuknya PHT ini adalah karena pengendalian- pengendalian sebelumnya belum cukup efektif untuk mengendalikan hama dan penyakit.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu adalah suatu konsep atau metode pengendalian hama dan penyakit dengan cara menggabungkan berbagai pengendalian yang telah ada untuk dijadikan satu sebagai suatu pengendalian yang efektif untuk mengendalikan hama penyakit dan juga ramah lingkungan. Konsep ini hadir ketika pengendalian- pengendalian sebelumnya belum bisa memenuhi kebutuhan manusia. Ada yang cukup efektif untuk mengendalikan hama dan penyakit, namun efek terhadap lingkungannya sangat berbahaya, begitu sebaliknya, memiliki efek baik terhadap lingkungan namun kurang efektif dalam mengendalikan Hama dan penyakit. Dan akhirnya hadir lah konsep PHPT ini yang diharapkan bisa mengendalikan hama dan penyakit dengan efektif dan juga ramah lingkungan.

Jika menyingkap sejarah, dahulu para pendahulu kita ketika zaman masih sangat belum berkembang, dan mereka mulai bercocok tanam, ternyata mereka pun telah menyadari adanya hama dan penyakit, dan mereka mengendalikan semua itu dengan metode yang sangat sederhana, mereka mengendalikannya dengan cara yang sekarang kita sebut metode fisik atau metode mekanis. Zaman mulai berkembang, mereka mulai mengeksplorasi alam dan menemukan tanaman- tanaman yang bisa dijadikan sebagai alat untuk mengendalikan hama dan penyakit. Mereka menggunakan bebauan yang menyengat dari tanaman tanaman tertentu untuk mengusir atau mencegah serangan hama dan penyakit, atau biasa kita sebut tanaman repelen, dan metode itu sekarang kita sebut pengendalian dengan metode biologis (pestisida nabati). Kemudian zaman terus berkembang dan semakin maju, mereka berfikir lagi, bahwa pengendalian dengan menggunakan bahan bahan dari alam atau pestisida nabati itu kurang efektif, karena yang mereka piikir efektif kala itu adalah mematikan hama dan penyakit tanpa ampun, mungkin seperti itu karena mereka sangat kesal sekali dengan serangan hama dan penyakit yang bisa mengakibatkan tanaman yang mereka budidayakan menjadi gagal panen.
Mereka mulai melakukan riset dan akhirnya menemukan bahan bahan kimia yang bisa dijadikan sebagai pengendalian yang sekarang kita sebut pengendalian dengan metode kimia (pestisida sintetis). Dan ternyata pengendalian yang seperti itu lah yang mereka inginkan. Pestisida sintetis dapat membunuh hama dan penyakit seketika, karena pada dasarnya bahan- bahan kimia adalah racun, dan mereka puas dengan apa yang telah mereka dapat. Waktu terus berjalan, dan ternyata bahan- bahan kimia itu berdampak sangat mengerikan, sehingga ada seorang wartawan yang menyadari dampak mengerikan tersebut dan membuat sebuah tulisan yang berjudul “silent spring”.
Buku tersebut menceritakan tentang keadaan musim semi kala itu, musim dimana biasanya para burung burung mulai berkicauan, namun sang wartawan tersebut melihat ada yang berbeda pada musim semi kala itu, dia menyadari bahwa tak ada burung- burung lagi yang berkicau riang saat musim semi, semuanya terasa hening. Dan para peneliti mulai melakukan riset dengan apa yang terjadi dengan keadaan kala itu. Dan ternyata, bahan- bahan kimia itu lah yang menyebabkan burung- burung tersebut mati. Jelas sekali, bahwa bahan bahan kimia itu adalah racun, manusia saja bisa mati jika meminumnya. Dan bagaimana si burung burung tersebut bisa mati, ternyata ketika kita menyemprotkan pestisida sintetis untuk mengendalikan hama dan penyakit itu pasti semprotannya tidak ada yang kena langsung ke hamanya, terjatuh didaun, terjatuh ditanah, terjatuh diair(sungai). Dan ketika butiran- butiran cairan kimia tersebut jatuh di air(sungai) lah yang menyebabkan kematian bagi burung- burung tersebut, karena mereka meminunm air (sungai) yang telah tercemar tersebut mereka langsung mati. Seketika itu pula mereka langsung menyadari bahwa pestisida sintetis sangat tidak ramah lingkungan.

Dengan buruknya dampak pestisida para ilmuan mulai berfikir lagi tentang pengendalian seperti apa yang efektif untuk mengendalikan hama dan penyakit namun juga ramah lingkungan. Waktu terus berjalan, dan akhirnya mereka menemukan suatu pengendalian yang mereka anggap efektif namun juga ramah lingkungan. Dan metode itu tak lain adalah Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT).
Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu menggabungkan berbagai pengendalian mulai dari pengendalian secara mekanik, biologis, hingga kimia. Pengendalian ini menggunakan metode metode tertentu pada saat saat tertentu. Jadi arti dari gabungan itu adalah bukan semua pengendalian digabung kemudian mengendalikan hama dan penyakit dengan berbagai pengendalian tersebut secara bersamaan, bukan seperti itu. Namun arti dari gabungan disini, kita menggunakan salah satu pengendalian yang telah disebutkan tadi ketika kondisi tertentu, kita boleh menggunakan pestisida sintetis, namun ada saatnya menggunakan itu, tidak sembarangan semprot memakai pestisida sintetis.
Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu ini sebenarnya mengutamakan “ramah lingkungan” kemudian baru pengendalian hama dan penyakitnya. Oleh karena itu, kita harus meminimalisir seminimal mungkin penggunaan pestisida sintetis yang notabennya tidak ramah lingkungan. Ada istilah Economic trash hold, Economic injury level, kedua hal itu adalah kondisi- kondisi yang menandakan kita harus menggunakan salah satu pengendalian yang tergabung dalam PHPT tersebut.
*sebenernya masih ada lanjutannya, tapi berlanjut.

#asli karya tulisan dari M Salman Umar Imani
dapusnya, ilmu ilmu dari dosen ketika perkuliahan :)
Selengkapnya...

Tugas pertama Biometrik 2

Saya denger denger kalo tugas biomet2 pertama kaga bisa didownload. maka dari itu saya coba memberi solusi kepada temen temen yang penegn download tugas tersebut. saya re upload dengan tempat yang berbeda. cukup mudah. sok cobian. Klik disini
Selengkapnya...

Sabtu, 07 Mei 2011

Molekular Breeding (download)

Materi Rekayasa Tanaman III, tentang Molekular Breeding.
bagi temen temen yang belum punya slide dan video nya. bisa diunggah disini.
semoga dapat bermanfaat bagi temen temen sekalian.



Download disini (klik)

jika ada kritik dan saran silahkan disampaikan dikolom komen saja.
terima kasih.
Selengkapnya...

Jumat, 29 April 2011

Tugas Tekprotan III

Postingan ini berisi sebagian dari keseluruhan makalah tentang "tanaman tahunan berorgan target batang" dari salah satu Mata Kuliah Teknologi Produksi Tanaman III.
saya sengaja memposting ini karena saya ingin berbagi dengan teman teman saya yang lain terutama junior junior yang belum mengambil mata kuliah ini. supaya memudahkan mereka dalam pencarian. tapi ingat! jangan karena saya memudahkan temen temen jadi keenakan, cuma bisa kopas tanpa baca!
"STOP MEMBACA UNTUK MEMELIHARA KEBODOHAN"


Download disini

Selengkapnya...

Senin, 11 April 2011

CONTOH TANAMAN BERORGAN TARGET BUNGA PADA GOLONGAN TANAMAN BUAH-BUAHAN BERUMUR TAHUNAN

Takutnya temen temen sekalian rada rada bingung bacanya, karena memang sengaja untuk dibuat bingung. haha
supaya anda membaca lebih teliti. :D
maka saya sediakan link downloadnya..
diantara bacaann itu. silahkan cari, dengan cara membacanya terlebih dahulu.

A. ANGGREK
I. Klasifikasi dan Morfologi
a. Klasifikasi
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Familia : Orchidaceae
Genus : Phalaenopsis
Species : Phalaenopsis amabilis
b. Morfologi
Anggrek bulan termasuk anggrek epifit monopodial yang tumbuh menjuntai. Batangnya sangat pendek dan terbungkus oleh seludang daun. Daunnya berjumlah kurang dari 5 helai, berwarna hijau, tebal, berdaging, berbentuk lonjong bulat telur sungsang atau jorong, melebar di bagian ujungnya, berujung tumpul, atau sedikit meruncing, dengan panjang 20-30 cm dan lebar 5-8 cm. Akar-akarnya berbentuk bulat memanjang serta berdaging, bercabang, berwarna putih dan hijau di bagian ujungnya. Bunga tersusun dalam tandan dan kadang-kadang bercabang dengan panjang karangan bunga mencapai 50 cm yang tumbuh menjuntai. Setiap tangkai mendukung 10-12 kuntum bunga dengan daun penumpu 5 mm berbentuk segitiga. Bunganya cukup harum dan waktu mekarnya lama. Perhiasan bunga tersusun membulat, dengan diameter 6-10 cm atau lebih, dan mahkotanya bertumpang tindih dengan kelopak tersusun membundar. Warna bunga putih bersih dengan sedikit variasi kuning dan bintik kemerahan di bibir bunga. Bibir kedua cuping sampingnya tegak melebar dan bagian tepi depannya berwarna kuning dengan garis kemerahan. Buah berbentuk bulat lonjong, berukuran 7,5 x 1,3 cm.


Bila Phalaenopsis kita berbuah, maka distribusi makanan di gunakan untuk pembentukan buah. Jangan heran bila pada saat anggrek kita berbuah, tanaman akan lambat pertumbuhanya. Merawat anggrek yang berbuah seperti merawat anggrek berbunga. Gunaka nutrisi yang mengandung 'P dan K' bila biji anggrek ingin di tanam, dan potong buahnya bila kita tidak membutuhkanya.
II. Sejarah Penamaan
Jenis Phalaenopsis yang pertama kali ditemukan adalah Phalaenopsis amabilis (L.) Bl. di Ambon (Maluku) pada tahun 1750. Dalam buku Herbarium Amboinense 6:99, Rumphius memberi nama jenis anggrek ini sebagai Angraecum album-majus. Di waktu yang bersamaan, pada tahun 1752, Peter Osbeck membawa spesimen jenis yang sama dari Jawa Barat dan diidentifikasi oleh Linnaeus sebagai Epidendrum amabile, seperti diterbitkan dalam Species Plantarum (1753), tanpa mengetahui publikasi yang terdahulu dari Rumphius. Pada tahun 1814, Roxburg juga mengidentifikasi jenis ini sebagai Cymbidium amabile. Namun pada tahun 1825 Blume memasukkan tumbuhan ini ke dalam marga Phalaenopsis dan diberi nama Phalaenopsis amabilis, seperti dipublikasikan dalam “Bijdragen (p.294)”. Nama tersebut disepakati oleh para ahli taksonomi sebagai nama yang valid dan dipakai hingga sekarang.
III. Habitat dan Persebaran
Anggrek ini dapat tumbuh di dataran rendah hingga pegunungan dan umumnya hidup pada ketinggian 50-600 m dpl, namun kadang kala dapat berkembang dengan baik pada ketinggian 700-1.100 m dpl. Tanaman ini tumbuh epifit atau menempel di pohon-pohon yang cukup rindang dan menyukai tempat-tempat yang teduh serta lembap, terutama di hutan basah dengan curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun. Walau tumbuh di daerah tropis, tetapi anggrek ini membutuhkan sedikit cahaya matahari (12.000-20.000 lux) sebagai penunjang hidupnya, karena tidak tahan terhadap sengatan matahari langsung. Kelembapan udara yang diperlukan ratarata 70-80% dengan suhu udara hangat di bawah 290C. Anggrek ini tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Indonesia, Filipina, hingga Papua Nugini dan Australia.
Phalaenopsis bisa ditanam dalam pot atau ditempelkan pada batang pohon, lempengan pakis, maupun kepingan kayu. Pot yang digunakan bisa berupa pot tanah liat atau pot plastik dengan memodifikasi media tumbuhnya. Pada prinsipnya, anggrek memerlukan kelembapan tinggi, namun tidak menyukai kadar air yang berlebihan. Sirkulasi udara juga harus lancar agar tidak timbul penyakit. Pot harus diberi lubang pada bagian bawah dan samping agar tidak ada air yang tersimpan. Media yang digunakan dapat berupa pecahan genting, arang, dan cacahan pakis. Media tersebut hanya digunakan untuk tempat menempel dan membantu berdirinya tanaman, sedangkan nutrisi diperoleh dari pemupukan yang dilakukan dengan cara penyemprotan. Teknik pemberian pupuk cair yang dialirkan dalam talang ke pot-pot berisi Phalaenopsis seperti sistem hidroponik, cukup baik hasilnya.
Anggrek ini memiliki karakter tumbuh monopodial, sehingga tidak menghasilkan anakan ke samping. Dalam hal ini, perbanyakan Phalaenopsis akan lebih efektif jika dilakukan secara generatif daripada vegetatif. Proses perkecambahan biji dilakukan di laboratorium, yaitu dalam media agar-agar buatan yang dilakukan secara steril. Biji anggrek kecil berupa serbuk tidak memiliki cadangan makanan (endosperm), sehingga perlu dibantu dengan penambahan unsur hara makro, mikro, vitamin, dan gula yang diperlukan untuk perkecambahan. Unsur hara paling sederhana yang dapat digunakan untuk mengecambahkan biji anggrek adalah pupuk daun Hyponex, namun secara umum media anggrek standar yang banyak digunakan adalah Vacin & Went dan Knudson C. Media tersebut dapat dimodifikasi dengan penambahan bahan organik seperti air kelapa, tomat, tauge, kentang, atau ubi.
IV. Manfaat

Gambar 2. Bunga Anggrek Hibrida
Bunga anggrek sangat mudah di silangkan, baik secara alami maupun bantuan manusia. Sampai saat ini telah banyak silangan yang telah dihasilkan oleh manusia di muka bumi ini. Anggrek hasil silangan tersebut dikenal sebagai anggrek hibrida.
Hibrida Phalaenopsis, pemanfaatannya lebih banyak untuk tanaman pot (pot plant) yang diciptakan sesuai dengan selera konsumen, baik dari segi warna, ukuran, maupun bentuk bunganya. Sampai saat ini, sudah banyak hibrida Phalaenopsis yang dihasilkan baik melalui persilangan antar spesies (interspecific hybrid) maupun antar genera (intergeneric hybrid).
A. KENANGA
I. Klasifikasi dan Morfologi
a. Klasifikasi
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Magnoliales
Familia : Annonaceae
Genus : Cananga
Species : Cananga odorata (Lamk.) Hook
b. Morfologi
Tumbuhan ini dapat tumbuh mencapai ketinggian 30-35m atau bahkan lebih pada spesies liarnya (14-20m pada spesies genuina, dan 15-35m pada spesies macrophilla). Batangnya berwarna kelabu. Daun tumbuhan ini berwarna hijau dan tersusun berselang-seling serta berbentuk eliptikal berukuran 7-23 cm panjang dan 4-10 cm lebar. Tumbuhan ini juga mempunyai bunga berwarna kuning kehijauan yang wangi serta mempunyai 6 kelopak.
Bunga :
Gambar 3. Bunga Kenanga
Bunganya berbentuk “bintang” majemuk, pendek, menggantung dan berwarna hijau ketika masih muda, dan menjadi kuning setelah masak. Bunganya memancarkan aroma harum. Bunga itu muncul pada batang pohon atau ranting bagian atas pohon, dengan susunan yang khas. Mahkota bunga umumnya berjumlah 6, namun terkadang berjumlah 8 atau 9, berdaging, terlepas satu sama lainnya, dan tersusun dalam 2 lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah 3. Benang sarinya banyak, dan ruang tempat sari berhubungan terdapat di ujung tangkai sari, berbentuk memanjang dan tertutup, berwarna cokelat muda. Jumlah bakal buah sekitar 7 – 15. Kepala putik berbentuk tombol.
Batang :
Batang dari tumbuhan ini lurus dan kuat, dengan cabang lateral. Batang utama dari tanaman ini panjang dan kulit batangnya berwarna abu-abu keputihan
Daun :
Gambar 4. Daun Kenanga
Daunnya berbentuk lonjong berwarna hijau tua, tersusun berselang-seling, dengan ukuran helai daun mencapai 8-20cm x 5-10cm, dan petiola yang berukuran ±1,3cm. Bagian tepi daun berbentuk keriting atau berombak dan bagian pangkal daun berbentuk membulat.
Buah :
Gambar 5. Buah Kenanga
Buah berwarna hijau kehitaman, dengan diameter 1,5-2,5cm, tersusun dari 6-12 buah tiap tangkainya, dengan daging buah yang tebal, dan memiliki 6-12 biji yang kecil dan berwarna coklat muda.


Biji :
Biji buah ini berwarna coklat muda, kecil, berukuran 6-7mm x 4-5mm, berbentuk pipih, dengan permukaan biji yang keras. Biji kenanga sekitar 8 – 12 per buah tersusun dalam dua baris.
I. Daerah Asal dan Penyebaran
Tanaman Kenanga tersebar dari Burma sampai Australia bagian Utara, juga di India dan pulau-pulau di Pasifik sampai ke Hawaii. C. odorata diperkirakan berasal dari Asia Tenggara. C. odorata (famili Anonaceae) diduga berasal dari Maluku dan Filipina.
II. Habitat
Kenanga dapat tumbuh baik di seluruh Indonesia dengan ketinggian tempat di bawah 1200 m dpl (Sunanto, 1993). Pohon ini akan berbunga lebat, jika tumbuh di dataran rendah yang beriklim panas dan lembab, dengan ketinggian antara 20 – 700 m dpl (Nasution dan Sastrapradja, 1977). Curah hujan yang dibutuhkan berkisar antara 250-4000 mm/tahun dengan bulan kering mencapai 4 bulan. Sedangkan suhu rata-rata yang dibutuhkan tanaman ini berkisar antara 10-35°C, yang optimum 18-25°C. Dalam Yusuf dan Sinohin (1999) disebutkan bahwa kenanga tumbuh di daerah dengan curah hujan (650)1500-2000 (- 4000) mm dan suhu rata-rata tahunan 21-27 °C. Di Jawa, pohon ini tumbuh berkelompok di hutan-hutan lembab dan hutan jati. Di Papua New Guinea, kenanga tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 800 m dpl.
Pengamatan lapang menunjukkan bahwa kenanga bisa bertoleransi terhadap kondisi kering (curah hujan < 40 mm) dalam periode pendek, selama kurang dari 2 bulan. Tanaman ini juga mampu tumbuh pada kondisi tergenang selama beberapa waktu, namun pada kondisi rawa permanen pertumbuhannya akan terganggu. Selain itu, kenanga tidak menyukai tanah berkadar garam dan alkalin tinggi. Sunanto (1993) menyebutkan kenanga dapat tumbuh lebih baik jika kondisi tanahnya subur, terutama tanah jenis alluvial (Entisol / Inceptisol). Bentuk toleransi lain dari tanaman ini adalah kenanga dapat tumbuh pada tanah dangkal dan tidak subur, serta berada pada naungan sedang. Kenanga tumbuh paling baik pada penyinaran matahari penuh. Tanah yang baik untuk pengembangan kenanga adalah tanah yang aerasinya baik dan solumnya dalam, tanpa lapisan batu atau padas. Hal ini penting karena tanaman tersebut memiliki perakaran yang dalam. Di Nossi Be (dekat Madagaskar), produksi dan mutu minyak kenanga yang terbaik diperoleh dari tanaman yang diusahakan pada tanah liat berpasir atau tanah vulkanik yang aerasinya baik. III. Manfaat Kulit batang kenanga menunjukan adanya alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan triterpenoid. Dalam abu ditemukan adanya kalium, kalsium, natrium dan magnesium, batangnya berwarna kelabu. Kenanga dijadikan sebagai sumber minyak atsiri untuk mewangian, kenanga juga menghasilkan kayu, yang berukuran besar dijadikan peti mati atau perkakas rumah. Kulit kayunya dapat dimanfaatkan sebagai serat untuk tali (di daerah-daerah Indonesia Timur), Bunga Kenanga dapat digunakan juga sebagai penghias dekorasi pada acara perayaan. Manfaat lain untuk aroma terapi yang efektif untuk melenyapkan bau badan yang sangat mengganggu. Bunga Canangium odoratum berkhasiat sebagai obat nyeri haid, di samping itu bunganya untuk bahan kosmetika. Di Jawa dan Bali, kenanga diperdagangkan oleh penduduk setempat sebagai bunga rampai dan bunga tabur yang digunakan dalam upacara-upacara keagamaan. Selain itu kenanga juga dikenal sebagai tanaman obat, daun sebagai obat gatal (Burkill, 1935), bunga kering untuk obat malaria (Heyne, 1987); bunga segar untuk aroma terapi, serta kulit batang sebagai obat koreng. Minyak atsiri yang terkandung dalam bunga kenanga digunakan sebagai bahan minyak wangi. Minyak kenanga mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi di pasaran dunia. Selain bernilai ekonomis, pohon kenanga juga bernilai ekologis, dimana pohon ini dapat digunakan untuk stabilitas lereng karena tipe perakarannya yang kuat dan dalam. Pohon kenanga umumnya diusahakan sebagai tanaman pekarangan atau tanaman tumpangsari. Di Boyolali, Blitar dan Pasuruan, kenanga ditanam secara tidak teratur di pekarangan-pekarangan rumah. Sedangkan di Cirebon dan Banten, dipelihara sebagai tanaman tumpang sari di antara pohon buah-buahan dan kelapa (Nasution dan Sastrapradja, 1975). B. CEMPAKA I. Klasifikasi dan Morfologi a. Klasifikasi Divisio : Magnoliophyta Classis : Magnoliopsida Ordo : Magnoliales Familia : Magnoliaceae Genus : Michelia Species : Michelia champaca Gambar 6. Bunga Cempaka b. Morfologi Cempaka atau Michelia Champaka Linn adalah sejenis pohon berkayu yang memiliki tinggi rata-rata 30 meter. Daun Cempaka berbentuk telur taji. Bagian bawah daun yang hijau itu terdapat bulu halus. Tiap kuncup daun dilindungi oleh 2 daun pelindung. Untuk bunga, warnanya putih, kuning, atau merah. Bentuknya seperti bunga Tulip. Buahnya ternyata enak untuk dimakan. Dalam pertumbuhannya, buah menjadi bulir panjang yang terdiri atas buah kecil- kecil berbentuk jantung. Biji dalam buah itu rasanya pahit. Kayunya sangat bagus untuk digunakan sebagai bagian dari bangunan rumah. Hanya saja, belum banyak orang yang menggunakan kayu Cempaka untuk kebutuhan tersebut. Gambar 7. Buah Cempaka Kulit kayunya berwarna coklat. Jika dibelah, warnanya kuning muda dan mudah terpecah. Bila dirasakan, kayu Cempaka terasa pahit dan agak wangi. Sedangkan, untuk kulit akarnya, warnanya merah, rasanya pahit, dan sangat tajam. Di dalam kulit dan daunnya, terdapat kandungan alkaloida dan zat samak. Kulit kayu dan akarnya juga mengandung damar. Asam damar juga terdapat pada bijinya, selain kandungan olein. Bunganya yang harum itu, terdapat minyak terbang (cheraniol, linalol, methuleugenol, asam benzoe, nerol, dan methulaethulazijnzuur). II. Daerah Asal dan Penyebaran Konon, tumbuhan ini berasal dari India dan banyak tersebar di Asia Tenggara dan Asia Timur, Selatan Sumatera: seputaran Lampung Barat, Jawa, Bali. Agen Penyebar biji diantaranya Burung Frugivora dan Beo. Burung-burung ini yang mampu menjelajahi hutan-hutan, berkunjung ke kebun, bekas hutan, hutan yang pernah terbakar membantu menyemaikannya yang kemudian diserahkan kepada alam untuk melanjutkan prosesnya. Ada yang berhasil tumbuh, ada pula yang tidak. Namun yang berhasil akan menjadi calon pohon induk yang akan berbaik hati dengan beo untuk menikmati bijinya. Proses alam terus berlangsung ada atau tanpa campur tangan manusia. III. Habitat dan Tempat Tumbuh Michelia champaca, nama yang cantik untuk sebatang pohon. Di hutan, tanaman ini termasuk pohon yang cukup tinggi. Cempaka tumbuh di tanah yang subur pada ketinggian hingga 1500 m dpl. Gambar 8. Pohon Cempaka IV. Manfaat Di Jawa, umumnya dikenal ada dua jenis Cempaka, yaitu Cempaka putih dan kuning. Cempaka putih dibudidayakan untuk diambil bunganya. Biasanya, Cempaka putih ini untuk campuran sesajian atau wewangian lain. Wewangian itu dihasilkan dari ekstrak minyak asiri bunga, daun, dan kayu Cempaka. Kulit kayunya bermanfaat untuk obat demam. Jenis Cempaka yang kuning ini lebih dikenal sebagai kantil. Hampir semua bagian tumbuhannya berguna, yaitu akar, batang, kulit kayu, daun, bunga, buah, dan bijinya. Kulit kayunya terasa pahit dan berkhasiat untuk obat kuat, febrifugum, dan tonikum. Untuk kulit akarnya, bisa digunakan bagi perbaikan menstruasi, bersifat abortivum dalam mempercepat keluarnya uri atau plasenta. Daunnya, bila direbus dan ditambah madu, bisa digunakan untuk obat cacing, reumatik, tenggorokan, obat kumur, dan angina. Bila napas berbau (halitosis), rebusan daunnya juga bisa digunakan. Bunga kantil sangat harum. Di samping sebagai penghias rambut, Cempaka kuning ini bermanfaat untuk minyak wangi atau aromatikum, kosmetik, dan upacara keagamaan. Selain itu, banyak juga orang yang menggunakannya untuk obat kuat, perangsang, dan diuretik. Minyaknya bisa untuk salep dan minyak rambut. Bagian kuncup bunganya juga kerap dimanfaatkan untuk obat penyakit raja singa (gonore uretritis) bila direbus dengan kelapa muda. Sedangkan, untuk bijinya yang dicampur dengan jahe, dapat dipakai sebagai obat demam pada anak-anak. Untuk menyapih anak dari ASI, biji kantil dihaluskan dan diletakkan di dada. DAFTAR PUSTAKA http://www.flickr.com/photos/kmatsalleh/2351990374/ http://tanamanobat.org/433/kenanga/ http://pohoncempaka.blogspot.com/ http://id.wikipedia.org/wiki/Cempaka http://noonathome.wordpress.com/2008/03/13/cempaka-berbagi-untuk-dirinya-beo-dan-manusia/ http://zulaikha1988.blogspot.com/2009/07/motif-bunga-cempaka-putih.html http://toiusd.multiply.com/journal/item/156/Cananga_odorata http://id.wikipedia.org/wiki/Michelia http://alamendah.wordpress.com/2010/04/23/anggrek-bulan-puspa-pesona-indonesia/ http://shiemarin.wordpress.com/2011/03/16/anggrek-bulan/ http://id.wikipedia.org/wiki/Anggrek_bulan http://bdm-208.blog.friendster.com/2005/05/cara-menanam-merawat-anggrek/ http://www.candiorchid.co.cc/2010/08/merawat-anggrek-part-4-phalaenopsis.html http://bungakuanggrek.blogspot.com/2010/10/bunga-anggrek-macam-macam-bunga-yang.html http://bunga354.blogspot.com/ http://blog.beswandjarum.com/muhanugrah/2009/09/03/perbanyakan-tanaman-anggrek/ http://id.wikipedia.org/wiki/Orchidaceae http://www.florabiz.net/budidaya/yuuk-budidaya-tanaman-anggrek.html http://postberita.com/opinipublik/589-sejarah-dan-asal-usul-anggrek http://www.plantamor.com/index.php?plant=258 http://id.wikipedia.org/wiki/Kenanga http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku1/1-054.pdf http://tnalaspurwo.org/media/pdf/kea_canangium_odoratum.pdf http://tani-sukses.blogspot.com/2010/02/budidaya-kenanga.html http://images.toiusd.multiply.multiplycontent.com/journal?&page_start=80 http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=26&id_kolom=2 http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/budidaya-kenanga/titut-yulistyarini-dkk/ http://www.plantamor.com/index.php?plant=1969 http://www.plantamor.com/index.php?plant=844 http://www.plantamor.com/index.php?plant=846 http://www.plantamor.com/index.php?plant=845 http://www.plantamor.com/index.php?plant=1952 http://staff.blog.ui.ac.id/taqyudin/index.php/category/tropical-tree/ http://staff.blog.ui.ac.id/taqyudin/index.php/2009/03/20/ bunga-cempaka-michelia-champaca/ buat download pptnya silahkan download dibawah ini : download disini

karena saya sangat baik hati sekali. :D
maka saya sediakan makalahnya pula.

Klik disini
Selengkapnya...

Minggu, 10 April 2011

Modul Praktikum Biotek HPT (download)

Postingan ini beriisi link download Modul Praktikum Bioteknologi HPT (2). bagi temen temen yang belum kebagian Modulnya (soalnya kan satu kelompok dapet satu), bisa langsung aja download disini aja , mangga cekidot dibawah :

klik in here untuk download
selamat menikmati. ^^
Selengkapnya...

Jumat, 08 April 2011

Pestisida Nabati (PesNab)

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan bahannya terbuat dari nabati, contohnya dari tumbuhan. kini pestisida nabati mulai diperkenalkan untuk menggeser keberadaan pestisida sintetis yang diduga mempunyai nilai rusak yang tinggi terhadap lingkungan. dengan menggunakan konsep "back to nature" mungkin pestisida nabati dimasa mendatang akan sangat ramai dibutuhkan oleh para petani. ini bisa menjadi peluang usaha bagi seorang enterpreneur dibidang pertanian. kandungannya yang sangat ramah lingkungan dijadikan sebagai ujung tombak untuk mendongkrak naiknya pestisida nabati ini kepasaran. memang jika diliat dari keampuhan membunuh jika dibandingkan antara pestisida sintetis dengan pestisida nabati kemampuan membunuhnya lebih cepat pestisida sintetis, jika pestisida nabati membunuh perlahan tapi pasti. yang membedakan keduanya adalah masalah "ramah terhadap lingkungan" pestisida nabati sangat ramah lingkungan dibandingkan dengan pestisida sintetis dikarenakan pestisida nabati itu sangat sekali mudah untuk diuraikan.

_ditulis oleh M Salman Umar Imani. Calon Sarjana Muda Pertanian. FAPERTA UNPAD

Saya akan beri link download untuk memperjelas bahasan tentang pestisida nabati ini :
download Pesnab2.ppt
download Pesnab3.ppt
download Pesnab1.ppt

Selengkapnya...

Problem Base Learning

Problem 8:
Sebagai seorang konsultan di suatu perusahaan suplier kentang, anda menemukan bahwa di musim penghujan ini banyak tanaman kentang yang daunnya busuk kehitaman terutama dimulai dari pucuk. Pada tanaman yang siap panen pun ternyata umbi kentangnya tampak membusuk kehitaman. Mengingat perusahaan anda juga memasok hipermarket yang memberlakukan standar residu pestisida yang ketat, maka anda harus bijaksana dalam memberikan rekomendasi pengendalian. Hal-hal apa saja yang harus anda pertimbangkan sebelum anda menentukan strategi pengendalian dan bagaimana strategi pengendalian yang anda rekomendasikan?


A. Penyakit Busuk pada Kentang
Sekitar 30-40% kerugian yang akan diderita petani bila busuk daun menjarah areal kentang. Apalagi jika terlambat mengendalikannya, tanaman akan hancur.
Penyakit busuk daun pada kentang atau yang biasa disebut lodoh oleh petani di Jawa Barat, sangat berbahaya. Serangannya dapat dijumpai di semua daerah yang ditumbuhi kentang. Namun serangan yang terberat biasanya terjadi di daerah yang udaranya lembab. Selain hasil yang diperoleh merosot, biaya produksi yang harus dikeluarkan pun jadi makin membengkak.
Gejala serangan tampak dengan adanya bercak basah bertepi tidak teratur pada tepi daun atau tengahnya. Bercak ini kemudian melebar dan terbentuklah daerah nekrotik berwarna cokelat. Di sekitar daerah itu terdapat bagian yang berwarna hijau kelabu yang dihasilkan oleh massa sporangium yang tampak berwarna putih. Serangan juga dapat terjadi pada tangkai daun atau tangkai anak daun dengan warna cokelat, melingkar, agak mengendap, dan dapat menimbulkan defoliasi.
Gejala ini cepat sekali menjalar ke seluruh areal kentang dan membinasakan tanaman, terlebih lagi bila musim hujan tiba. Percikan air akan menghantar spora cendawan ganas ini kemana-mana. Keganasan cendawan ini ternyata tidak hanya menimpa daun, umbi pun dimangsanya pula. Kulit umbi yang terserang melekuk dan agak berair. Bila umbi dibelah, daging umbi berwarna cokelat dan busuk. Yang akhirnya umbi tidak laku dijual. Jadi, tak aneh, bila hingga kini penyakit tersebut masih menjadi ancaman bagi para petani kentang.
Busuk pada daun

Busuk pada buah
B. Penyebab Penyakit Busuk pada Kentang
Penyebab penyakit ini adalah cendawan ganas bernama Phytophthora Infestans. Gelaja awalnya tampak berupa bercak-bercak hijau kelabu pada permukaan bawah daun, kemudian berubah menjadi coklat tua. Semula serangannya hanya terjadi pada daun-daun bawah, lambat laun merambat ke atas dan menjarah daun-daun yang lebih muda. Bila udara kering, jaringan yang sakit menjadi mengkerut, melengkung, dan memutar. Jika udara lembab, akibatnya akan semakin parah, jaringan daun akan segera membusuk dan tanaman mati.
Phytophthora Infestans
TAKSONOMI
Domain : Eukaryota
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Class : Oomycetes
Ordo : Peronosporales
Famili : Pythiaceae
Genus : Phytophthora
Species : Phytophthora infestan



Ciri yang khas untuk mengenalnya ialah misellium yang tidak bersekat-sekat. Warna misellium putih, jika tua mungkin agak coklat kekuning – kuningan; kebanyakan sporangium berwarna kehitam–hitaman. Hifanya berkembang sempurna. Phytopthora memiliki sporangium yang berbentuk bulat telur. Phytophthora infestans memproduksi spora aseksual yang disebut sporangia. Ini adalah sporangia hyalin, berbentuk seperti jeruk nipis, panjangnya 20-40m. Cara ini dilakukan tanpa penggabungan sel kelamin betina dan sel kelamin jantan, tetapi dengan pembentukan spora yaitu zoospora yang terdiri dari masa protoplasma yang mempunyai bulu–bulu halus yang bisa bergetar dan disebut cilia, tetapi dapat juga berkembangbiak secara seksual dengan oospora, yaitu penggabungan dari gamet betina besar dan pasif dengan gamet jantan kecil tapi aktif.


Gambar 1. Morfologi Phytophthora Infestan



Gambar 2. Daur Hidup Phytophthora Infestan
Daur hidup dimulai saat sporangium terbawa oleh angin. Jika jatuh pada setetes air pada tanaman yang rentan, sporangium akan mengeluarkan spora kembara (zoospora), yang seterusnya membentuk pembuluh kecambah yang mengadakan infeksi. Ini terjadi ketika berada dalam kondisi basah dan dingin yang disebut dengan perkecambahan tidak langsung. Spora ini akan berenang sampai menemukan tempat inangnya. Ketika keadaan lebih panas, P. infestan akan menginfeksi tanaman dengan perkecambahan langsung, yaitu germ tube yang terbentuk dari sporangium akan menembus jaringan inang yang akan membiarkan parasit tersebut untuk memperoleh nutrient dari tubuh inangnya. Jamur juga dapat bertahan pada tanaman kentang yang biasanya terdapat di daerah penanam sayuran pegunungan.
Oospora sangat jarang dibentuk, bahkan di Indonesia belum pernah ditemukan karena jamur ini bersifat heterotalik, artinya perkembangbiakan secara seksual atau pembentukan oospora hanya terjadi apabila terjadi mating (perkawinan silang) antara dua isolat P. infestans yang mempunyai mating type (tipe perkawinan) berbeda. Inti sel antheridium dan oogonium akan saling melebur (karyogami) ketika antheridium memasuki oogonium. Mereka akan membentuk oospore diploid, yang mana akan berkembang menjadi sporangium dan daur hidup secara aseksual akan terulang. Oospora diproduksi pada daun kentang pada temperature dekat dengan 100% kelembaban relatif, 10 - 25,5C, dan pada saat itu Phytophthora menghasilkan sporangia dalam jumlah berlimpah pada permukaan daun.

C. Pertimbangan sebelum Strategi Pengendalian
Sebelum menentukan strategi pengendalian, hal-hal yang harus dipertimbangkan diantaranya:
Pemberian ketahanan genetik secara vertikal dan horizontal.
Ketahanan Vertikal
Tipe ketahanan vertikal dikendalikan oleh gen tunggal (monogenik) atau oleh beberapa gen (oligogenik ) dan hanya efektif terhadap biotipe penyakit tertentu. Secara umum sifat ketahanan vertikal mempunyai ciri-ciri :
1. Biasanya diwariskan oleh gen tunggal atau hanya sejumlah kecil gen,
2. Relatif mudah diidentifikasi dan banyak dipakai dalam program perbaikan ketahanan genetik,
3. Biasanya dikaitkan dengan hipotesis “gen for gen” dari flor,
4. Menghasilkan ketahanan genetik tingkat tinggi, tidak jarang mencapai imunitas, tetapi jika timbul biotipe baru maka ketahanan ini akan mudah patah dan biasanya tanaman menjadi sangat rentan terhadap biotipe tersebut, dan
5. Biasanya menunda awal terjadinya epidemi, tetapi apabila terjadi epidemi maka kerentanannya tidak akan berbeda dengan kultivar yang rentan.
Ketahanan Horizontal
Tipe ketahanan horizontal disebut juga ketahanan kuantitatif. Tanaman yang memiliki ketahanan demikian masih menunjukan sedikit kepekaan terhadap penyakit tetapi memiliki kemampuan untuk memperlambat laju perkembangan epidemi. Secara teoritis, ketahanan horisontal efektif untuk semua biotipe. Oleh karena itu, umumnya sulit dipatahkan meskipun muncul biotipe baru dengan daya serang yang lebih tinggi. Varietas dengan tipe ketahanan demikian dapat diperoleh dengan cara mempersatukan beberapa gen ketahanan minor ke dalam suatu varietas dengan karakter agronomik yang unggul melalui pemuliaan konvensional maupun non-konvesional.

Ciri-ciri khusus ketahanan horizontal adalah :
1) Biasanya memiliki tingkat ketahanan yang lebih rendah dibandingkan dengan tipe ketahanan vertikal, dan jarang didapat immunitas,
2) Diwariskan secara poligenik dan dikendalikan oleh beberapa atau banyak gen,
3) Pengaruhnya terlihat dari penurunan laju perkembangan epidemi.
Perlakuan tanah :
a) Pembalikan tanah
b) Penggenangan
c) Pengaturan pH
d) Penambahan bahan organik

Cara-cara bercocok tanamnya
a. Rotasi tanaman dengan yang bukan satu family
b. Tumpang sari
c. Benih sehat yang bersertifikat
Umbi untuk bibit diambil dari tanaman yang sehat. Umbinya sendiri harus sehat dan tidak cacat. Jika umbi yang digunakan sebagai bibit sudah sakit (tak normal), jangan harap akan diperoleh tanaman yang sehat. Ciri umbi yang sehat tampak segar, tidak busuk, kulitnya mulus, tidak ada bekas-bekas serangan hama penyakit. Ukuran umbi untuk bibit lebih kurang yang beratnya 30gr dan bersertifikat.
d. Sanitasi lahan
Bibit yang sehat belum menjamin tanaman akan terbebas dari penyakit ini bila kondisi lapangan tidak sehat. Oleh karena tiu, perlu diusahakan agar areal tanaman terbebas dari sumber inokulan (penularan) cendawan Phytopthora Infestans. Caranya adalah dengan melakukan pembajakan, penggaruan, penggenangan, pengaturan pH, penambahan bahan organic (bokasi / cacing) dan rotasi tanaman (pemberaan), serta tumpang sari untuk mematikan atau memutuskan siklus hidup cendawan ganas ini.
Biaya pengeluaran
D. STRATEGI PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK DAUN PADA KENTANG
Lahan kentang yang terserang cendawan ganas Phytophthora Infestans, solusi yang pertama hanyalah melakukan panen muda, yang jelas saja hasilnya tidak akan maksimal, kemudian bakar tanaman kentang yang terjangkit, dan berikan fungisida kimiawi.
Kemudian bila ingin berhasil menanam kentang, kita harus bisa mengatasi serangan penyakit lodoh. Sebelum mengetahuinya, jangan coba-coba menanamnya, nanti menyesal jadinya.
o Secara Fisis
- peningkatan suhu pada tanah (solarisasi)
Solarisasi tanah adalah suatu metode pasteurisasi yang efektif untuk menekan banyak spesies nematoda. Tetapi metode ini efektif bila cukup cahaya matahari pada musim panas. Tanah diberi plastik transparan selama 6-8 minggu. Panas matahari akan diperangkap oleh plastik, sehingga menaikkan temperatur tanah.
- peningkatan suhu pada saat perendaman benih.

o Secara Biologi
-Menggunakan jamur antagonis : Trichoderma, MVA
Menggunakan Trichoderma :
Trichoderma spp. efektif mengendalikan OPT / cendawan tular tanah. Trichoderma spp. menghasilkan enzim kitinase dan ß- 1.3-glukanase, dengan proses antagonis parasitisme yang dapat membasmi cendawan Phytophthora Infestans. Cendawan Trichoderma spp. diaplikasikan langsung ke tanah. Cara pengendalian Phytophthora infestans oleh cendawan Trichoderma dengan dosis 100gr/lt air (media beras), ditambah dengan zat perekat.
Menggunakan MVA (Mikoriza Vasikular Arbuskular)
-Menggunakan bakteri antagonis : Psedomonas fluorescens

o Secara Kimia
-Sintetik : -Botani :
*Pestisida *bawang putih
*Fumigasi *zingiberaceae
*Penyemprotan *sirih

Dengan rekomendasi pengendalian seperti ini, residu pestisida tidak akan berlimpah sehingga perusahaan dapat memasok hasil kentang ini ke hipermarket yang memberlakukan standar yang ketat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. www.google.com
2. pink-territory.blogspot.com
3. www.wikipedia.com
4. http://hpt.unpad.ac.id
5. TRUBUS No 242 TAHUN XXI

Selengkapnya...

Hama

Ulat Penggulung Daun Pisang
Erionota thrax L.

Nama umum : Erionota thrax (Linnaeus, 1767)
Klasifikasi : Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Hesperiidae
Sumber gambar : CABI
Ulat Penggulung Daun Pisang
Erionota thrax L. (Famili: Hesperidae, Ordo: Lepidoptera)

Gejala Serangan
Daun yang diserang ulat biasanya digulung, sehingga menyerupai tabung dan apabila dibuka akan ditemukan ulat di dalamnya. Ulat yang masih muda memotong tepi daun secara miring, lalu digulung hingga membentuk tabung kecil. Di dalam gulungan tersebut ulat akan memakan daun.
Apabila daun dalam gulungan tersebut sudah habis, maka ulat akan pindah ke tempat lain dan membuat gulungan yang lebih besar. Apabila terjadi serangan berat, daun bisa habis dan tinggal pelepah daun yang penuh dengan gulungan daun.

Morfologi/Bioekologi
Kupu-kupu mengisap madu bunga pisang dan melakukan kopulasi sambil berterbangan pada waktu sore dan pagi hari serta bertelur pada malam hari.
Telur diletakkan berkelompok sebanyak ± 25 butir pada daun pisang yang masih utuh.


Ulat yang masih muda warnanya sedikit kehijauan, tubuhnya tidak dilapisi lilin. Sedangkan ulat yang lebih besar berwarna putih kekuningan dan tubuhnya dilapisi lilin.
Pupa berada di dalam gulungan daun, berwarna kehijauan dan dilapisi lilin. Panjang pupa lebih kurang 6 cm dan mempunyai belalai (probosis). Siklus hidup di Bogor berkisar antara 5 – 6 minggu.
Tanaman Inang Lain
Tanaman pisang hias, pisang serat.

Pengendalian
• Cara mekanis
- Daun pisang yang tergulung diambil, kemudian ulat yang ada di dalamnya dimusnahkan
• Cara biologi
- Pemanfaatan predator seperti burung gagak dan kutilang
- Pemanfaatan parasitoid telur (tabuhan Oencyrtus erionotae Ferr), parasitoid larva muda (Cotesia (Apanteles) erionotae Wkl), dan parasitoid pupa (tabuhan Xanthopimpla gampsara Kr.). Parasitoid lainnya: Agiommatus spp., Anastatus sp.. Brachymeria sp., dan Pediobius erionatae.




Lalat buah dapat berupa:
• Tephritidae, keluarga lalat buat ukuran besar
• Drosophilidae, keluarga lalat buah ukuran kecil, termasuk:
• Drosophila melanogaster, spesies yang biasa disebut "lalat buah", dan biasa digunakan sebagai model dalam biologi modern


Lalat Buah
Lalat Buah (Bactrocera sp.)
Ordo : Diptera Famili : Tephritidae
Gejala
Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya. Serangan lalat buah ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya karena aktivitas hama di dalam buah, noda tersebut berkembang menjadi meluas. Larva makan daging buah sehingga menyebabkan buah busuk sebelum masak. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil dengan ukuran antara 4-10 mm yang biasanya meloncat apabila tersentuh. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini mencapai 30-60%. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai kematangan yang diinginkan.
Bioekologi
Dalam siklus hidupnya lalat buah mempunyai 4 stadium hidup yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat buah betina memasukkan telur kedalam kulit buah jeruk atau di dalam luka atau cacat buah secara berkelompok. Lalat buah betina bertelur sekitar 15 butir. Telur berwarna putih transparan berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva lalat buah hidup dan berkembang di dalam daging buah selama 6-9 hari. Larva mengorek daging buah sambil mengeluarkan enzim perusak atau pencerna yang berfungsi melunakkan daging buah sehingga mudah diisap dan dicerna. Enzim tersebut diketahui yang mempercepat pembusukan, selain bakteri pembusuk yang mempercepat aktivitas pembusukan buah. Jika aktivitas pembusukan sudah mencapai tahap lanjut, buah akan jatuh ke tanah, bersamaan dengan masaknya buah, larva lalat buah siap memasuki tahap pupa, larva masuk dalam tanah dan menjadi pupa. Pupa berwarna kecoklatan berbentuk oval dengan panjang 5 mm. Lalat dewasa berwarna merah kecoklatan, dada berwarna gelap dengan 2 garis kuning membujur dan pada bagian perut terdapat garis melintang. Lalat betina ujung perutnya lebih runcing dibandingkan lalat jantan. Siklus hidup dari telur menjadi dewasa berlangsung selama 16 hari. Fase kritis tanaman yaitu pada saat tanaman mulai berbuah terutama pada saat buah menjelang masak. Lalat buah yang mempunyai ukuran tubuh relatif kecil dan siklus hidup yang pendek peka terhadap lingkungan yang kurang baik. Suhu optimal untuk perkembangan lalat buah ? 26?C, sedangkan kelembaban relatif sekitar 70%. Kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan pupa. Kelembaban tanah yang sesuai untuk stadia pupa adalah 0-9%. Cahaya mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan lalat buah. Lalat buah betina akan meletakkan telur lebih cepat dalam kondisi yang terang, sebaliknya pupa lalat buah tidak akan menetas apabila terkena sinar.
Lalat buah paling banyak menyerang pada pamelo (Citrus grandis) dan sedikit yang menyerang jeruk manis (C. sinensis) maupun keprok (C. reticulata). Pada pamelo diidentifikasi sebagai B. carambolae dan B. papayae Pada pamelo serangan lalat buah kadang-kadang bersamaan dengan serangan penggerek buah Citripestis sagitiferella, sehingga agak sulit membedakan serangga tersebut. Hama ini banyak ditemukan di sentra-sentra produksi jeruk seperti di Sumatera Utara dan Jawa Timur.
Pengendalian
Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi adalah saat buah menjelang masak. Lalat buah dapat dikendalikan dengan berbagai cara mulai dari mekanis, kultur teknis, biologi dan kimia. Di alam lalat buah mempunyai musuh alami berupa parasitoid dari genus Biosteres dan Opius dan beberapa predator seperti semut, sayap jala (Chrysopidae va. (ordo Neuroptera)), kepik Pentatomide (ordo Hemiptera) dan beberapa kumbang tanah (ordo Coleoptera). Peran musuh alami belum banyak dimanfaatkan mengingat populasinya yang rendah dan banyaknya petani yang mengendalikan hama menggunakan insektisida. Parasitoid dan predator ini lebih rentan terhadap insektisida daripada hama yang diserangnya. Cara mekanis adalah dengan pengumpulan dan pemungutan sisa buah yang tidak dipanen terutama buah sotiran untuk menghindarkan hama tersebut menjadi inang potensial, akan menjadi sumber serangan berikutnya. Pengendalian mekanis juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan buah yang busuk atau sudah terserang kemudian dibenamkan kedalam tanah atau dibakar. Pembungkusan buah mulai umur 1,5 bulan untuk mencegah peletakan telur (oviposisi), merupakan cara mekanik yang paling baik untuk diterapkan sebagai antisipasi terhadap serangan lalat buah. Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah (membalik tanah) di bawah pohon/tajuk tanaman dengan tujuan agar pupa terangkat ke permukaan tanah sehingga terkena sinar matahari dan akhirnya mati.
Pengendalian dengan cara kimia dilakukan dengan menggunakan senyawa perangkap/atraktan yang dikombinasikan dengan insektisida. Senyawa yang umum digunakan adalah Methyl eugenol. Caranya dengan meneteskan pada segumpal kapas sampai basah namun tidak menetes, ditambah dengan insektisida dan dipasang pada perangkap yang sederhana, modifikasi dari model perangkap Stiener. Alat perangkap terbuat dari dari botol bekas air minum mineral yang lehernya berbentuk kerucut atau toples plastik. Perangkap dipasang dekat pertanaman atau pada cabang atau ranting tanaman jeruk. Pemasangan dilakukan sejak buah pentil (umur ? 1,5 bulan) sampai panen. Pemberian cairan atraktan diulang setiap 2 minggu sampai 1 bulan. Setiap satu hektar dapat dipasang 15-25 perangkap.







Pengendalian Lalat Buah
Kamis, 06 Desember 2007 22:34:04 - Post By teguh
Category : Hama Dan Pengendaliannya
Lalat buah (Dacus sp.) merupakan hama yang menyerang tanaman buah mulai stadia buah masih muda dengan menimbulkan tingkat kerusakan yang parah saat buah menjadi matang.

Kerusakan yang timbul dimulai dari lalat buah betina yang siap bertelur menyuntikkan telurnya ke dalam buah muda. Perkembangan selanjutnya adalah menetasnya larva berupa ulat yang memakan daging buah dan bahkan terdapat lubang kecil sebagai tempat keluar dari ulat tersebut. Dengan demikian buah akan membusuk dari dalam dan rontok.

Langkah pengendalian yang paling mudah adalah dengan menjaga kebersihan sekitar tanaman buah ataupun kebun dengan membuang dan membakar sampah daun dan buah yang busuk, membungkus buah sejak dini yaitu saat telah menjadi buah kecil (fruit set) dengan menggunakan kertas koran, plastik, dan lain-lain. Namun langkah tersebut tidak mengurangi populasi lalat buah yang berkembang. Salah satu jalan adalah dengan menggunakan perangkap lalat buah yaitu Metil Eugenol. Metil eugenol merupakan feromon sintetis (buatan) atau hormon penarik (attractan) lalat buah jantan yang dipunyai lalat betina untuk mengadakan perkawinan.

Cara kerja penggunaan feromon ini adalah dengan meneteskan 0,5 - 1 ml hormon ini ke potongan kapas yang dibentuk gulungan kecil dan digantung dengan menggunakan kawat, selanjutnya pada kapas yang sama diteteskan secukupnya (0,2 - 0,5 ml) insektisida seperti Diazinon, Dursban, Supracide, dan lain-lain. Penempatan gulungan kapas ini diletakkan di suatu tempat berupa botol aqua plastik yang pada bagian dasar botol dibuat berlubang untuk ventilasi, sehingga bau metil eugenol dapat tercium dua arah. Lalat yang tertarik dan menempel di kapas beberapa saat akan mati setelah bersentuhan dengan campuran metil eugenol dengan insektisida. Dengan demikian populasi lalat jantan akan berkurang, sehingga berdampak dengan tingkat keberhasilan panen buah yang berkualitas.

Lalat Buah
Bactrocera dorsalis,
B. neohumeralis, B.
Nama umum : Bactrocera frauenfeldi (Schin.)
Klasifikasi : Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Tephritidae
Sumber gambar : CABI
Lalat Buah : Bactrocera dorsalis, B. neohumeralis, B. pedestris
Famili : Tephritidae
Ordo : Diptera

Morfologi/Bioekologi

Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, diletakkan berkelompok 2 - 15 butir dan dalam waktu ± 2 hari. Telur yang diletakkan di dalam buah akan menetas menjadi 1arva. Seekor lalat betina mampu menghasilkan telur 1200 - 1500 butir.
Larva berwarna putih keruh atau putih kekuning-kuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva terdiri atas tiga instar, dengan lama stadium larva 6 - 9 hari.
Larva setelah berkembang maksimum akan membuat lubang keluar untuk meloncat dan melenting dari buah dan masuk ke dalam tanah untuk menjadi pupa. Pupa berwarna coklat, dengan bentuk oval, panjang ± 5 mm dan lama stadium pupa 4 - 10 hari.
Imago rata-rata berukuran panjang ± 7 mm, lebar ± 3 mm dengan warna toraks dan abdomen antar spesies lalat buah bervariasi misalnya oranye, merah kecoklatan, coklat, atau hitam. Demikian pula sayapnya transparan dengan bercak-bercak pita (band) yang bervariasi merupakan ciri masing-masing spesies lalat buah. Pada lalat betina ujung abdomennya lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur, sedangkan abdomen lalat jantan lebih bulat. Secara keseluruhan daur hidup lalat buah berkisar ± 25 hari.
Hama lalat buah pada tanaman mangga banyak dijumpai di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Gejala serangan

Gejala awal pada permukaan kulit buah ditandai dengan adanya noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telurnya ke dalam buah. Selanjutnya akibat gangguan larva yang menetas dari telur di dalam buah, maka noda-noda tersebut berkembang menjadi bercak coklat di sekitar titik tersebut. Larva memakan daging buah, dan akhirnya buah menjadi busuk dan gugur sebelum matang.

Tanaman inang lain

Menyerang lebih dari 20 jenis buah-buahan, diantaranya belimbing, pepaya, jeruk, jambu, pisang, dan cabai merah

Pengendalian
Cara peraturan
- Menerapkan peraturan karantina antar area/wilayah/negara yang ketat untuk tidak memasukkan buah yang terserang dari daerah endemis.
Cara kultur teknis
- Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon yang agak dalam dan merata agar pupa yang terdapat di dalam tanah akan terkena sinar matahari dan akhirnya mati.
- Pembungkusan buah saat masih muda dengan kantong plastik, kertas semen, kertas koran, atau daun pisang.
• Cara fisik/mekanis
- Mengumpulkan buah yang terserang baik yang masih berada pada pohon maupun yang gugur, kemudian dibakar atau dibenamkan 60 – 70 cm dalam tanah agar larvanya terbunuh.
- Pengasapan di sekitar pohon dengan membakar serasah/jerami sampai menjadi bara yang cukup besar untuk mengusir lalat. Pengasapan dilakukan 3 – 4 hari sekali dimulai pada saat pembentukan buah dan diakhiri 1 –2 minggu sebelum panen.
• Cara biologi
- Penggunaan perangkap yang diberi umpan atau atraktan (misalnya Methyl Eugenol)
- Menurunkan populasi lalat dengan melepas serangga jantan mandul (steril) dalam jumlah yang banyak, agar kemungkinan berhasilnya perkawinan dengan lalat fertile di lapang menjadi berkurang.
- Pemanfaatan musuh alami antara lain Biosteres sp., Opius sp., (Braconidae), semut (Formicidae), laba-laba (Arachnidae), kumbang (Staphylinidae) dan cocopet (Dermaptera).
- Penanaman tanaman selasih di sekitar kebun.
• Cara kimiawi
- Dilakukan apabila dijumpai lalat buah dalam perangkap dan diulang setiap 4–7 hari sampai populasi turun
- Pemberian umpan semprot (bait spray), yaitu umpan protein yang mengandung ammonia dicampur dengan insektisida khlorfirifos atau malation.




Penggerek Buah (Citripestis sagitiferella Moore)

Ordo : Lepidoptera Famili : Pyrallidae
Gejala
Ulat menggerek buah sampai ke daging buah, sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok, kadang-kadang tertutup dengan kotoran. Bagian buah yang terserang biasanya pada setengah bagian bawah dan apabila serangan parah buah akan busuk dan gugur. Buah yang peka terhadap serangan hama ini berumur 2-5 bulan dari jenis jeruk besar, manis dan Navel orange maupun siam terutama yang ditanam di dataran tinggi. Jenis keprok relatif tidak disukai namun bukan berarti tidak dapat terserang.
Bioekologi
Stadium hidup yang berperan sebagai hama adalah larvanya. Kupu betina meletakkan telur secara berkelompok, tersusun seperti genting pada separuh bagian bawah kulit buah. Telur menetas dalam 5-7 hari. Ulat yang baru menetas berwarna kuning kemerahan panjang 2 mm, menjelang menjadi kepompong berubah menjadi hijau dengan panjang 16 mm. Ulat dewasa terbentuk dalam waktu 13-21 hari. Dengan perantaraan benang suteranya, ulat-ulat ini turun, masuk dalam tanah pada kedalaman 1-2 cm menjadi kepompong berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 14 mm. Setelah 10-11 hari berubah menjadi kupu-kupu dewasa. Kupu betina panjangnya 10-11 mm sedangkan kupu jantan 10 mm. Siklus hidup dari telur sampai dewasa berlangsung 29-39 hari. Di Indonesia hama ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan.
Pengendalian
Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi adalah pada saat tanaman berbuah, buah-buah berumur 2 bulan dengan ukuran diameter mulai 5-6 cm. Serangan berlanjut sampai buah berumur 3 bulan dan menjelang masak fisiologis. Untuk mencegah peletakan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah (jeruk besar), memetik buah jeruk yang terserang kemudian dibenam dalam tanah atau dibakar. Pengendalian cara ini biasanya dilakukan sekaligus untuk mengendalikan lalat buah dan puru buah. Pengendalian dengan insektisida dilakukan sebelum telur menetas yaitu saat buah umur 2-5 bulan sehingga larva yang baru keluar akan segera mati sebelum sempat menggerek. Di alam, populasi hama ini dikendalikan oleh parasit telur Trichogramma nana (16%). Pemanfaatan parasitoid ini dilakukan pada saat yang tepat dengan pelepasan dari hasil perbanyakan masal yang sudah banyak dilakukan.
Pengendalian Hama Penggorok Daun Liriomyza huidobrensis Pada Tanaman Kentang
Hama penggorok daun dapat menyebabkan kehilangan hasil pada tanaman kentang sebesar 34-45%. Langkah-langkah pengendalian secara terpadu yang dapat dilakukan adalah:
1. Penggunaan mulsa plastik dengan tinggi guludan 40 cm
2. Pemanfaatan musuh alami Hemiptar- senus varicornis, yang mampu menekan serangga hama sampai dengan 97,52%
3. Perangkap likat warna kuning khususnya untuk imago lalat pengorok daun sekaligus sebagai alat pantau perkembangan populasi hama tersebut
4. Insektisida selektif, baik insektisida sistetik maupun biorasional
5. Varietas resisten

Ulat Penggerek Bunga dan Puru Buah
Prays spp.
Nama umum : Prays citri Millière
Klasifikasi : Kingdom : Animalia
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Yponomeutidae
Sumber gambar : CABI
Ulat Penggerek Bunga dan Puru Buah : Prays spp.
Famili : Yponomeutidae
Ordo : Lepidoptera

Morfologi/Bioekologi
Prays citri mempunyai telur dengan ukuran 0,1 - 0,2 mm, berwarna transparan, kuning muda atau kuning tua sesuai dengan umurnya.
Telur-telur ini diletakkan oleh induk betina pada malam hari secara terpisah pada kuncup bunga dan kadang-kadang pada buah muda.
Larva yang baru menetas berupa ulat masuk ke dalam bunga dan menggerek bunga dari bagian dalam. Kadang-kadang ulat juga masuk ke dalam kulit buah dan tetap tinggal dalam endokarpa sampai stadium pupa.
Ulat berwarna hijau muda dengan kepala coklat, panjang 5 mm. Stadium ulat berlangsung 3 minggu.
Pupa berwarna coklat, berukuran 5 - 5,5 mm, berada dalam bunga, kulit buah atau bagian-bagian tanaman yang tersembunyi. Stadium dewasa berupa kupu dan stadium ini keluar dari pupa dengan meninggalkan bekas puru di bagian tanaman tempat pupa tinggal.
Prays endocarpa mempunyai telur yang datar, berwarna hijau transparan, dengan diameter 0,4 mm. Telur-telur diletakkan secara berserakan di bagian kulit buah muda pada malam hari. Telur menetas 4 hari kemudian dan larva yang keluar berwarna hijau, kemudian nampak garis-garis melintang berwarna merah pada tubuh larva, ukuran panjang larva sampai dengan 5 - 7 mm. Ulat atau larva menggerek kulit buah jeruk serta hidup di dalamnya.


Kepompong berwarna merah abu-abu, panjang 4,5 - 5 mm. Pupa dapat ditemukan pada buah, atau lebih sering ditemukan pada ranting atau tepi daun. Siklus hidup dari telur hingga menjadi kupu-kupu dewasa berlangsung 29 hari.
Pada saat tanaman jeruk mulai berbunga, larva akan masuk ke dalam kuncup-¬kuncup bunga atau pada kulit buah-buah muda dan hidup di dalamnya.
Prays endocarpa Meyr. di Indonesia terdapat di Sumatera dan Jawa. Di luar negeri dilaporkan terdapat Eropa Tenggara sampai dengan Asia Tenggara antara lain Malaysia.

Gejala serangan
Prays citri terutama menyerang kuncup bunga jeruk manis atau jeruk besar yang belum mekar sehingga apabila buah berkembang, akan meninggalkan bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3 - 0,5 cm. Bunga-bunga yang terserang parah mudah rontok atau gugur. Infeksi sekunder sering terjadi melalui luka, menyebabkan buah muda gugur sebelum tua.
Prays endocarpa menyerang buah-buah muda dan meninggalkan bekas berupa puru-puru. Seiring dengan perkembangan buah, pada puru-puru tersebut terjadi lubang, menyebabkan buah berkualitas rendah. Buah-buah yang banyak diserang oleh ulat ini terutama dari jenis jeruk yang berkulit tebal seperti jeruk besar, jeruk manis, jeruk sitrun, dan grapefruit.

Tanaman inang lain
Belum diketahui, namun berbagai tanaman jeruk menjadi ianganya.
Cara pengendalian
1. Pengendalian secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang mengarah pada budidaya tanaman sehat yaitu: terpenuhinya persyaratan tumbuh (suhu, curah hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), pengaturan jarak tanam, pemupukuan, dan pengamatan secara teratur setiap 2 minggu.
2. Pengendalian mekanis dan fisik, dilakukan dengan mengumpulkan buah-buah muda yang menunjukkan puru dan memusnahkannya agar populasi tidak berkembang. Bunga-bunga yang terserang dan gugur dikumpulkan serta dimusnahkan.
3. Pengendalian kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan efektif sesuai rekomendasi, dilakukan secara spot spray pada bagian tanaman yang terserang.



3) Ulat penggerek batang (Plocaederus feeeugineus L)

Gejala: mula-mula daun berubah warna menjadi kuning; lama-kelamaan
daun
akan gugur/rontok dan tanaman dapat mati. Pengendalian: (1) dengan
menangkap ulat penggerek tersebut; (2) dengan mengolesi sekitar
permukaan
batang/akar dengan larutan BMC 1-2% (20 gram/liter air).

4) Hama penggerek buah dan biji (Nephoteryx sp.)

Gejala: buah muda yang diserang hama ini akan berjatuhan dan kering,
sedang
buah tua isinya belum penuh. Pengendalian: belum didapatkan cara yang
tepat,
sebab larva instar yang jatuh terakhir dan menjadi pupa di tanah,
maka hama
dapat diberantas secara mekanis atau kimiawi, yaitu dengan
menggunakan
Karbaril 0,15%.




c. Penggerek batang (Melanagromyza sojae)
Lalat meletakkan telur pada tanaman muda, terutama yang berumur kurang dari 1 (satu) bulan. Juka serangan berat tanaman menjadi kerdil.
Hama-hama lalat kacang, lalat pucuk dan penggerek batang umumnya timbul pada saat cuaca kering dan didaerah dengan kesuburan tanah rendah.
Hemimetabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dalam daur hidupnya Hemimetabola serangga mengalami tahapan perkembangan sebagai berikut:
1.Telur
2.Nimfa, ialah serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Dalam fase ini serangga muda mengalami pergantian kulit.
3.Imago (dewasa), ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya.
Kelompok Holometabola
Holometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur – larva – pupa – imago. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan sifatnya berbeda dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan.
Berdasarkan ciri sayap dan alat mulutnya, kelompok Holometabola ini meliputi 6 ordo, yaitu ordo:
1. Neuroptera
2. Lepidoptera
3. Diptera
4. Coleoptera
5. Siphonoptera
6. Hymenoptera


Selengkapnya...