BLOG INI MILIK MUHAMMAD SALMAN UMAR IMANI - MAHASISWA AGROTEKNOLOGI - FAKULTAS PERTANIAN - UNIVERSITAS PADJADJARAN Dokter Tanaman: It's About "Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT)" Part 1
Nematoda mati pada suhu 45 derajat celcius##Plutella xylostella menyerang daun kubis- kubisan, sedangkan Crocodolomia pavonana menyerang Crop kubis## Kemunduran Benih Meningkat Sejalan Dengan Meningkatnya Kadar Air Benih ## protektan mencegah masuknya penyakit yang masih diluar benih agar tidak masuk kedalam benih, desinfektan mencegah penyakit yang sudah menempel dibenih agar tidak masuk kedalam benih, desinfektan mengobati benih yang telah terinfeksi oleh penyakit##

Kamis, 08 September 2011

It's About "Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT)" Part 1

Mengenai Pengendalian, banyak metode yang kini bisa diterapkan untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman yang telah kita budidayakan, salah satu yang paling efektif dan metode terkini adalah dengan pengendalian hama dan penyakit terpadu, atau lebih dikenal dengan sebutan PHT. Menilik kilas balik sejarah asal usul terbentuknya PHT ini adalah karena pengendalian- pengendalian sebelumnya belum cukup efektif untuk mengendalikan hama dan penyakit.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu adalah suatu konsep atau metode pengendalian hama dan penyakit dengan cara menggabungkan berbagai pengendalian yang telah ada untuk dijadikan satu sebagai suatu pengendalian yang efektif untuk mengendalikan hama penyakit dan juga ramah lingkungan. Konsep ini hadir ketika pengendalian- pengendalian sebelumnya belum bisa memenuhi kebutuhan manusia. Ada yang cukup efektif untuk mengendalikan hama dan penyakit, namun efek terhadap lingkungannya sangat berbahaya, begitu sebaliknya, memiliki efek baik terhadap lingkungan namun kurang efektif dalam mengendalikan Hama dan penyakit. Dan akhirnya hadir lah konsep PHPT ini yang diharapkan bisa mengendalikan hama dan penyakit dengan efektif dan juga ramah lingkungan.

Jika menyingkap sejarah, dahulu para pendahulu kita ketika zaman masih sangat belum berkembang, dan mereka mulai bercocok tanam, ternyata mereka pun telah menyadari adanya hama dan penyakit, dan mereka mengendalikan semua itu dengan metode yang sangat sederhana, mereka mengendalikannya dengan cara yang sekarang kita sebut metode fisik atau metode mekanis. Zaman mulai berkembang, mereka mulai mengeksplorasi alam dan menemukan tanaman- tanaman yang bisa dijadikan sebagai alat untuk mengendalikan hama dan penyakit. Mereka menggunakan bebauan yang menyengat dari tanaman tanaman tertentu untuk mengusir atau mencegah serangan hama dan penyakit, atau biasa kita sebut tanaman repelen, dan metode itu sekarang kita sebut pengendalian dengan metode biologis (pestisida nabati). Kemudian zaman terus berkembang dan semakin maju, mereka berfikir lagi, bahwa pengendalian dengan menggunakan bahan bahan dari alam atau pestisida nabati itu kurang efektif, karena yang mereka piikir efektif kala itu adalah mematikan hama dan penyakit tanpa ampun, mungkin seperti itu karena mereka sangat kesal sekali dengan serangan hama dan penyakit yang bisa mengakibatkan tanaman yang mereka budidayakan menjadi gagal panen.
Mereka mulai melakukan riset dan akhirnya menemukan bahan bahan kimia yang bisa dijadikan sebagai pengendalian yang sekarang kita sebut pengendalian dengan metode kimia (pestisida sintetis). Dan ternyata pengendalian yang seperti itu lah yang mereka inginkan. Pestisida sintetis dapat membunuh hama dan penyakit seketika, karena pada dasarnya bahan- bahan kimia adalah racun, dan mereka puas dengan apa yang telah mereka dapat. Waktu terus berjalan, dan ternyata bahan- bahan kimia itu berdampak sangat mengerikan, sehingga ada seorang wartawan yang menyadari dampak mengerikan tersebut dan membuat sebuah tulisan yang berjudul “silent spring”.
Buku tersebut menceritakan tentang keadaan musim semi kala itu, musim dimana biasanya para burung burung mulai berkicauan, namun sang wartawan tersebut melihat ada yang berbeda pada musim semi kala itu, dia menyadari bahwa tak ada burung- burung lagi yang berkicau riang saat musim semi, semuanya terasa hening. Dan para peneliti mulai melakukan riset dengan apa yang terjadi dengan keadaan kala itu. Dan ternyata, bahan- bahan kimia itu lah yang menyebabkan burung- burung tersebut mati. Jelas sekali, bahwa bahan bahan kimia itu adalah racun, manusia saja bisa mati jika meminumnya. Dan bagaimana si burung burung tersebut bisa mati, ternyata ketika kita menyemprotkan pestisida sintetis untuk mengendalikan hama dan penyakit itu pasti semprotannya tidak ada yang kena langsung ke hamanya, terjatuh didaun, terjatuh ditanah, terjatuh diair(sungai). Dan ketika butiran- butiran cairan kimia tersebut jatuh di air(sungai) lah yang menyebabkan kematian bagi burung- burung tersebut, karena mereka meminunm air (sungai) yang telah tercemar tersebut mereka langsung mati. Seketika itu pula mereka langsung menyadari bahwa pestisida sintetis sangat tidak ramah lingkungan.

Dengan buruknya dampak pestisida para ilmuan mulai berfikir lagi tentang pengendalian seperti apa yang efektif untuk mengendalikan hama dan penyakit namun juga ramah lingkungan. Waktu terus berjalan, dan akhirnya mereka menemukan suatu pengendalian yang mereka anggap efektif namun juga ramah lingkungan. Dan metode itu tak lain adalah Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT).
Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu menggabungkan berbagai pengendalian mulai dari pengendalian secara mekanik, biologis, hingga kimia. Pengendalian ini menggunakan metode metode tertentu pada saat saat tertentu. Jadi arti dari gabungan itu adalah bukan semua pengendalian digabung kemudian mengendalikan hama dan penyakit dengan berbagai pengendalian tersebut secara bersamaan, bukan seperti itu. Namun arti dari gabungan disini, kita menggunakan salah satu pengendalian yang telah disebutkan tadi ketika kondisi tertentu, kita boleh menggunakan pestisida sintetis, namun ada saatnya menggunakan itu, tidak sembarangan semprot memakai pestisida sintetis.
Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu ini sebenarnya mengutamakan “ramah lingkungan” kemudian baru pengendalian hama dan penyakitnya. Oleh karena itu, kita harus meminimalisir seminimal mungkin penggunaan pestisida sintetis yang notabennya tidak ramah lingkungan. Ada istilah Economic trash hold, Economic injury level, kedua hal itu adalah kondisi- kondisi yang menandakan kita harus menggunakan salah satu pengendalian yang tergabung dalam PHPT tersebut.
*sebenernya masih ada lanjutannya, tapi berlanjut.

#asli karya tulisan dari M Salman Umar Imani
dapusnya, ilmu ilmu dari dosen ketika perkuliahan :)

2 komentar: